Jika pikiran anda bisa memikirkan kesusahan, pikiran anda juga bisa memikirkan kemudahan. about 4 hours ago from Tweetie

Apapun yang ada dalam pikiran kita, jika dipercayai dan terus diulang ulang, lama kelamaan akan menyatu menjadi salah satu ciri-ciri kita. Baik itu susah atau mudah, badan dan jiwa kita bereaksi sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Kamu mau hari ini sakit ? Gampang. Coba katakan “Sakit panas” 30 kali dalam beberapa menit ini. Pasti kamu sudah mulai merasa tidak enak badan. Sudah dicoba ? Benar ya ? Bagaimana jika hal itu kita balik efeknya ?

Saya pernah berdiskusi dengan salah satu teman, yang sepertinya dalam kehidupannya isinya hanya kesuraman. Padahal, dibalik kesuraman hidupnya, banyak rejeki yang tidak pernah dirasakannya. Mungkin, di pikirkannya pun tidak.

Dia memiliki segudang barang mewah, tapi kurang memiliki banyak teman. Yang sering dikatakannya adalah “Aku tidak punya teman”. Padahal masih ada saya lho, benar kan ? Dia mudah mendapatkan pacar, tapi memang dia tidak mau mengerti bentuk cinta mereka. Yang sering dikatakannya “Aku kekurangan kasih sayang”.

Walaupun itu mungkin benar, tapi kondisi seseorang sesuai dengan bagaimana dia menempatkan dirinya dalam hidup. Jika selama ini dia hanya melihat sisi gelap dari kehidupannya, maka seterusnya hanya sisi gelap itulah yang akan dialaminya setiap hari. Masa kita mau menjalani hidup yang suram setiap hari ? Elu aja deh silahkan, gw sih ogah.

Saya berani bersyukur bahwa setiap hari yang lewat dalam hidup saya adalah hari yang menyenangkan. Biarpun mungkin saya hanya duduk di depan komputer seharian, tapi pasti ada hal menyenangkan yang membuat saya duduk disitu. Mungkin saya lelah juga jalan jalan kesana kemari seharian, tapi di ujung hari, saya akan dengan sadar bersyukur bahwa hari saya itu keren, sudah bertemu dengan banyak orang baru yang keren, dan menyenangkan.

Bagaimana dengan menghadapi macetnya Jakarta ? Bagaimana dengan larang tidak boleh merokok di berbagai tempat ? Bagaimana dengan badan saya yang gendut ?

Semua hal menyusahkan diatas tidak pernah menjadi sesuatu yang menyusahkan karena saya tidak pernah menganggapnya menyusahkan. Macet ya biarkan saja, itu Jakarta. Belom afdol kalau Jakarta tidak macet. SMS tidak dibalas, ya biarkan, mungkin dia sibuk. Tidak boleh merokok, ya biarkan saja, mungkin sedang ada yang asma. Di twitter pada ngamuk ngamuk, ya biarkan, mungkin mereka sedang datang bulan. Badan saya gemuk, ya biarkan, toh tidak pernah dilarang masuk kafe atau bioskop.

Ini semua hanya masalah sudut pandang.

Semestinya, baik susah maupun mudah, itu hanya ada di pikiran, hanya masalah sudut pandang. Saat kita benar benar merasa susah terhadap sesuatu, semestinya kita bisa merubah sudut pandang sehingga yang sebelumnya susah, terlihat berat, jadi menantang dan menyenangkan.

Selalu ada hadiah menyenangkan dan pastinya, menggembirakan bagi mereka yang berhasil menemukan solusi dari permasalahan mereka. Dan solusi itu tidak akan pernah ketemu selama kita tidak merubah sudut pandang kita sendiri.