Manusia alam semesta
Pesannya Avatar bukan cuma jangan menebang pohon sembarangan. Sebagai manusia harus bisa sinkron dengan alam semesta. about 2 hours ago from Tweetie
Avatar, film yang luar biasa ini memang bukan saja dahsyat secara teknis dan teknologi, tapi juga dahsyat secara penyampaian dan pesan. Peran juga dilakukan dengan baik dan emosi juga dapat disentuh dengan sangat baik. Highly Recommended, in 3D.
Nggak, saya nggak sedang membuat review mengenai film avatar. Saya cuma ingin mengingatkan bahwa pesan pesan yang disampaikan oleh Avatar itu, bisa jadi benar.

Pesan pada film avatar mungkin sudah dengan jelas dapat kita tangkap, bahwa keserakahan bisa membawa tangis dan duka, kemudian mendapatkan karma yang buruk sebagai hasil dari aksinya. Tapi sebenarnya, cukup banyak pesan sampingan yang sebenarnya, sangat related dengan dunia dimana kita berada sekarang ini. Kesan yang saya tangkap sekitar 1 jam setelah menonton filmnya, adalah betapa spiritualnya dunia Avatar, mirip dengan bumi ini sendiri, dimana, konsep spiritual yang ada di Bumi sudah mulai hilang, terutama pada saat ini dan masa depan yang akan datang.
Memangnya pernah ada kehidupan spirituil seperti bangsa Na’vi di Bumi kita ? Kehidupan yang saling terhubung antara manusia dengan alam sekitarnya, dengan binatang, tumbuhan, dan bahkan benda mati seperti patung.
Saya sendiri menanyakan pertanyaan ini, jika avatar di korelasikan dengan kehidupan bumi, bangsa Na’vi itu tak ubahnya seperti jaman saya kecil dulu, waktu kakek nenek masih ada. Bagaimana cara mereka hidup sehari hari ?
Kakek dan Nenek, dulu sangat mencintai tumbuhan, mereka hidup berdampingan dengan tumbuhan, punya taman besar yang ada di belakang rumah, hampir seperti hutan. Saya pernah bertanya kepada Papa, “kenapa ada tanaman sebanyak ini di belakang rumah ?” jawabannya agak mengerikan “Temen ngobrol Eyang kalau sore”. Wuih!
Kami memang punya pohon pisang, nangka, mangga, rambutan dan beberapa buah lain yang saya sudah tidak temukan lagi di Indonesia. Saya sampai lupa namanya, tapi saya nggak lupa bentuknya, dan kebetulan, masih belum pernah melihat buah seperti itu lagi disini.
Dulu, eyang sering ngobrol dengan tumbuhan yang dia rawat, untuk memahami kebutuhan si tumbuhan, Eyang bisa mendengar, entah bagaimana caranya, permintaan si tanaman. Jika tanaman itu membutuhkan sesuatu untuk membuat daging buahnya menjadi manis, Eyang mampu untuk menterjemahkannya dan menuruti permintaannya. Beberapa yang masih saya ingat, eyang pernah memberikan kuah rebusan daging sebagai pupuk untuk tanaman, karena tanaman itu membutuhkannya.
Secara teknis, saya nggak tau bagaimana menterjemahkannya, dan kemungkinan besar, eyang juga nggak tau apa saja kandungan rebusan kuah daging yang bermanfaat buat si tanaman, yang menjadikan buahnya manis. Akhirnya, kuah rebusan daging masih digunakan sampai sekarang oleh orang tua saya untuk pupuk pohon yang akan berbuah.
Papa malah agak ekstrim, pernah mengancam sebuah pohon tua yang ogah berbuah, untuk berbuah lagi. Jika tidak berbuah, mau digantikan dengan pohon yang baru, katanya. Hasilnya apa ? Nggak sampai 1 minggu kemudian, pohon rambutan tua itu berbuah lagi untuk yang kesekian kalinya, dan masih berbuah sampai sekarang, tanpa pernah dirawat karena Papa saya ada di luar kota. Uniknya, saya pernah ketok itu pohon rambutan dengan pangkal gunting, bunyinya “dung”, kayak dalamnya kosong karena kering. Tapi kalau kering, kenapa masih berbuah dan bukannya mati ? Agak aneh memang. Besok coba saya getok lagi pakai pangkal gunting.
Saya juga dulu pernah punya anjing, 13 ekor anjing yang hidup berdampingan dengan beberapa ekor kucing. Saya masih ingat, waktu salah satu anjing saya mati ketabrak di tengah jalan, rumah lengang dan sepi karena tidak ada anjing yang menyambut sepulang sekolah. Kemana mereka ? Seperti di beritahu oleh sesuatu, saya menyusuri jalan besar, sampai ke daerah yang tidak pernah di telusuri sebelumnya karena terlalu jauh dari rumah, dan sampai di sebuah ruas jalan, dimana anjing anjing saya berkumpul disana, berjejer berbaris di pinggir jalan, sementara satu anjing yang lain tergeletak di tengah jalan, mati.
Kebetulan, tidak lama kemudian Papa juga lewat situ, padahal itu bukan jalan yang biasa digunakan Papa waktu pulang kantor. Saya nggak tanya kenapa Papa lewat situ, tapi uniknya kami bertemu di satu ruas jalan yang tidak biasa, kemungkinan besar karena ada perasaan aneh yang mengharuskan kami pergi ketempat itu. Siapa yang membimbing kami, meminta kami untuk bertemu disitu ?
Waktu kecil, saya suka sekali pergi ke kuburan. Buat apa ? Benar. Buat belajar. Kuburan adalah rumah kedua saya untuk belajar, rumah saya sendiri, sekitar 14 rumah dari kuburan umum yang ada disitu. Penjaga kuburan sudah tau benar kalau saya sedang ke kuburan, bukan mau ziarah, tapi mau belajar. Saya sering duduk di bawah pohon rindang yang di sampingnya ada nisan. Dan saya, sering nyender ke nisan itu kalau sedang belajar. Seringkali saya belajar sampai sore disitu, karena begitu maghrib, anjing anjing, beberapa anjing diantaranya milik saya, akan nyusul ke kuburan, beserta satu anjing raksasa milik tetangga (tingginya 1.5x lipat dari saya waktu itu) meminta saya untuk pulang. Memaksa tepatnya.
Anjing besar ini, Aldo namanya, sering dengan kurang ajar nya menarik baju saya, menaikkan tubuh kecil saya ke punggungnya. Seperti naik kuda, saya sering pulang kerumah waktu maghrib, menunggangi Aldo dan diiringi anjing anjing lain. Papa punya fotonya sebagai bukti, yang mana, saya sendiri sudah lupa kalau dulu waktu kecil pernah begitu. Coba lihat, siapa meminta anjing anjing itu untuk kompak menjemput di kuburan dan memaksa pulang waktu sore hampir maghrib ? Kenapa selalu saat maghrib ? Kenapa selalu Aldo yang saya tunggangi ? Kenapa Aldo yang bisa saja mencaplok habis badan saya itu, MAU ditunggangi ?
Sampai sekarang, kuburan bukan tempat yang mengerikan buat saya, saya lebih ngeri berada di rumah sendirian dan mendengar suara suara aneh, ketimbang bermalam di kuburan, ditempat Kakek dan Nenek yang saya kenal di semayamkan.
Di kesempatan lain, waktu itu saya sudah menginjak SMP, saudara saya datang kerumah. Ngobrol ngobrol dengan Papa, dan kemudian pembicaraannya jadi agak aneh, “Awannya jelek ya om akhir akhir ini ?” kata sodara saya itu. “Mau ada yang turun kali, Wan” kata Papa. Nggak sampai berapa lama, Ibu Tien tewas tertembak. Yang lalu disusul dengan turunnya Pak Harto dari pemerintahan. Kebetulan ? Embuh. Saya sih nggak percaya kebetulan.
Dari beberapa kisah diatas, saya sebenarnya ingin menceritakan banyak sekali, karena ternyata memang ternyata banyak kasusnya, kita bisa melihat bahwa bangsa Na’vi, tak ubahnya bangsa kita dulu sebelum tahun 1980an, yang masih ramah dengan alam, masih berbicara dengan bahasa halus khas alam, masih berteman dengan alam. Beberapa, mungkin dalam kasus ini, saya, malah sangat ramah terhadap lingkungan dan kompak mampu berbicara dengan hewan hewan. Sampai beberapa anjing monster milik tetangga yang ukurannya memang sangat besar sekali, bisa berteman dengan saya, yang belum sekalipun tahu apa itu arti teman.
Melihat bangsa Na’vi di film Avatar sangat menyentuh hati saya, karena kembali ingat beberapa kisah di masa lalu yang sebenarnya, sangat mirip dengan kehidupan bangsa Na’vi yang benar benar hanya mengandalkan alam sebagai sumber daya. Juga bisa berbicara, mendengar, berkomunikasi dengan alam dan universe secara langsung.
Pesan dalam film Avatar, bukan saja untuk tidak menebang pohon sembarangan, menjaga alam, tapi juga, yang mungkin dilihat sebagai aspek utama, tapi luput dari penglihatan kita, adalah bersatunya alam dengan manusianya, dalam satu tujuan hidup yang besar. Kisah kisah saya diatas, menggambarkan betapa 20 tahunan yang lalu, kita masih bisa berbicara dengan alam, masih kompak dengan mahluk hidup, masih ramah kepada alam dan diberikan oleh alam fasilitas unik dari mahluk mahluknya.
Sekarang, jangankan ramah terhadap alam. Ingat saja belum tentu. Mau sampai kapan kita begini ?
15 Responses to Manusia alam semesta
Leave a Reply Cancel reply
Follow Me!






T_T. Iya, bener banget.
yang pertama, swear ngeliat film Avatar gw bener2 tersentuh hatinya, melihat keindahan alam dan coexistancy antara penghuni serta alamnya. Beautiful film indeed.
yang kedua, kenapa alam dan manusia skrng tidak kompak dikarenakan ulah manusia yang bersifat destruktif terhadap alam, seperti yang bro bilang, spt Karma, dilingkungan yang buruk, akan dikembalikan jg dengan yang buruk.
yang ketiga, gw dulu jg sempet punya anjing, awalnya anjing itu memang kompakan sama gw, diajak main sana sini, sampai tiba2 anjing gw jadi sering kabur2an, makanin sampah, karena lingkungan saya ga suka ada anjing, yang akhirnya anjing saya dibunuh oleh seseorang. T_T.
memang benar, manusia itu dengan alam itu ditakdirkan hidup berdampingan, mutualisme, bukan parasitisme dan berkesan exploitasi.
Touching article bro T_T..kita harus berpikir primitif untuk lebih sayang terhadap Bumi, tapi jujur, gw ngeliat keadaan skrng kyknya udah masuk Point Of No Turning Back, jadi memang kehidupan di muka Bumi ini harus di ‘Reset’.
kok jadi inget 2012, serem bener >_<
Wah, menungganggi anjing, seperti Kiba di Naruto Shippūden dong
wah mungkin iya, jangan jangan Aldo sudah ada sejak jaman Naruto
wiwh nggak nyangka anang bisa nulis panjang-panjang gini, mungkin bentar lagi nerbitkan buku yang disponsori oleh kutukutubuku
Tadinya memang target maks 1500 karakter zam, soalnya emang biasa nulis panjang. Ternyata membatasi diri itu lebih sulit hahahaha
Haha iya ntar diterbitin Ebooknya sama Kutukutubuku Publishing :p
halah hahaha, ntar aku sendiri yang buat covernya :p
[...] This post was mentioned on Twitter by Ollie, Anang Pradipta. Anang Pradipta said: RT @unwinged Manusia alam semesta http://bit.ly/84bqHw [...]
@anang emang doyan nulis panjang.
@ollie: dah ada kutukutubuku publishing yah li?
Untuk tulisan anang ntar kalo sempet gw baca
Iyo gus ini kepanjangan kayaknya. Gw lagi belajar biar bisa lebih singkat nih.
Belum nonton Filmnya nih.. masih malas ngantri beli tiket.
Wah ngantri ya ? Untunglah disini sudah tidak mengantri
tulisannya mencerahkan mas
sebetulnya kearifan lokal yg tercermin dalam budaya na’vi sampe skrng di bbrp tempat di indonesia masih ada
misalnya dilarang masuk ke hutan atau gunung tertentu karena ada “penunggunya”
larangan seperti ini sebetulnya lebih bertujuan agar manusia jangan merusak tempat2 tersebut, cuma sayangnya manusia zaman skrng sudah tidak lagi menghormati kearifan lokal seperti ini
bukan berarti kita harus percaya hal yang mistik, tapi satu contoh nyata saja, 20-30 tahun yang lalu kawasan puncak boleh dibilang adalah kawasan sepi penduduk, bbrp tempat dibilang angker oleh masyarakat setempat
namun semakin berjalannya waktu, manusia tidak mennghormati hal2 tsb, imbasnya apa2, dengan semena2 mereka membangun beberapa Villa, mengganti area yg tadinya hijau dengan bangunan megah
imbasnya secara tidak sadar mereka telah merusak dan membuat “marah” penunggu kawasan tersebut, kemarahan ibu pertiwi di puncak hadir dalam bentuk bencana banjir yg tiap tahun menggenangi jakarta
euh menyedihkan memang
Yang secara logis bisa dinalar, seperti banjir itu, tentu saja tidak langsung dikaitkan sebagai mistik.
Penebangan kawasan serapan air di daerah puncak dan dibuat jadi villa (soalnya memang biasanya prospektif tempatnya) tentu akan membuat daerah lain banjir.
Kalau melihat kebudayaan na’vi, itu bukan secara mistik sih, tapi secara kosmos. Dimana manusia satu, na’vi satu dan yang lain saling berhubungan dengan satu katalis. Pandora itu sendiri. Nah itu luar biasa, sama luarbiasanya seperti 20 – 30 tahun yang lalu dimana kita masih menjadi katalis bagi bumi itu sendiri.
Ya seperti yang saya kisahkan diatas, kehendak bumi secara langsung disampaikan kepada kita melalui pertanda alam (kisah kisah anjing itu) dan kita bisa secara langsung mengambil manfaatnya.
Kalau sekarang sepertinya kita sudah tidak memilikinya lagi, siapa yang sedang bermusuhan ? Manusia kepada alam atau alam kepada manusia ? atau keduanya ?