Sakit itu biasa
Rasa sakit memang nggak nyaman, tapi dengan rasa sakit, kita bertumbuh, lebih baik, juga seringkali level up. about 10 hours ago from DestroyTwitter
Blog post yang tidak mengenakkan, pagi pagi kok ngomongin rasa sakit. Tapi jangan kuatir, rasa sakit yang ini baik adanya. Kok bisa ?

Selama hidup, kita pasti pernah mengalami yang namanya sakit. Baik itu sakit hati dengan teman kantor, atau sakit otot kejang kejang, kesemutan bahkan kram karena urat ketarik. Kita semua pernah mengalami hal itu. Kita juga pernah, kecapekan jadi masuk angin, batuk batuk sampai mau pingsan rasanya.
Alasan untuk semua rasa sakit diatas adalah karena kita tidak terbiasa. Kita memang tidak terbiasa untuk mengalami rasa sakit, kita selalu sebisa mungkin, berada di situasi yang menurut kita pribadi, menyenangkan, menggembirakan, dan enak. Santai, dan sebagainya.
Padahal, hampir segala bentuk rasa sakit, merupakan pelajaran bagi masing masing organ kita, yang akan dengan mudah di toleransi pada beberapa kali latihan saja.
Secara fisik, coba tunjuk jari yang pernah kram di kaki, atau mual di perut karena lari sprint jarak pendek ? Saya pernah. Tapi waktu saya ikut Tae Kwon Do, saya harus lari minimal 1KM sebelum memulai latihan. 2 – 3 kali sesi awalnya, tentu saja saya kembali ke Dojang tertatih tatih, sakit perut, kepala pusing dan mau pingsan rasanya. Padahal latihan belum dimulai. Tapi pada minggu minggu berikutnya, saya mulai bisa lari 300M tanpa henti, 500M tanpa henti, 1000M (1KM) tanpa henti pada bulan ke 2! Setelah kami semua sanggup lari 1KM tanpa henti, Sabeum kami menyuruh kami lari 2KM sebelum latihan!
Apa yang terjadi ? Persis. Mual, mau pingsan, kejang kejang. Tapi di 3 pertemuan berikutnya, kami sudah bisa lari 2KM tanpa masalah! Bagaimana jika Sabeum meminta kami lari 3KM ? Awalnya, kami pasti akan hancur luar biasa karena tidak terbiasa. Tetapi, dalam beberapa kali latihan, kami akan mampu mengatasi masalah itu.
Kami juga disuruh ngangkang selebar lebarnya untuk memperpanjang otot kaki. Nantinya membuat kaki lebih luwes dalam melakukan tendangan tendangan. Caranya ? Split. Kaya pemain balet. Sakitnya bukan main kalau tidak terbiasa.
Memang, yang ini butuh waktu agak lama, saya dari tidak bisa split sama sekali, sampai bisa split total (pangkal paha nyentuh tanah) itu butuh waktu 6 bulanan. Tapi apa ? Tapi akhirnya berhasil bisa split seperti Van Damme di film Blood Sportsnya itu, dalam beberapa bulan.

Sama dengan waktu saya latihan Tenis. Di pertemuan pertama, sikut saya rasanya ketarik bukan main setelah latihan tenis. Tapi apa saran guru saya ?
“Jangan dikasih Rheumason, jangan dikasih elbow support.” kata guru Tenis saya.
“Lho kenapa pak ? Sakit nih !”
“Ototnya lagi geser mbentuk sudut Tenis, besok besok kalau latihan udah nggak sakit lagi.” Jawab guru saya.
Ternyata benar. Di latihan ke 2, saya sudah tidak lagi merasakan sakit di sikut karena urat ketarik. Padahal gerakan yang dilakukan sama dengan minggu lalu. Sekali lagi, karena sudah terbiasa.
Rasa sakit, baik fisik maupun hati, sama sama tetap rasanya ingin dihindari. Tetapi semakin kita menghindarinya, semakin banyak pula kita kehilangan berbagai pengalaman yang dibutuhkan agar kita semakin kuat, semakin luwes, semakin paham bagaimana mengatasi sakit tadi, atau terbiasa.
Dalam bahasa motivasi sehari hari, kondisi kita ini, namanya Comfort Zone. Kita cenderung tidak mau meninggalkan Comfort Zone dan tetap ada disitu selamanya. Bukan salah anda, tapi salah otak anda, karena otak lebih suka begitu. Otak cenderung mencari cara agar tubuh kita aman tanpa terluka, tanpa perlu perjuangan, tanpa perlu merasakan sakit. Kenapa ? Karena otak kita berusaha melindungi kita dari cedera yang tidak diperlukan, agar kita tetap berfungsi sebagai manusia yang bisa survive di alam sewajarnya.
Tetapi, meninggalkan Comfort Zone bukan tanpa reward. Seperti yang saya ilustrasikan diatas (dari pengalaman pribadi), meninggalkan comfort zone berarti siap dengan rasa sakit, yang mana rasa sakit ini membuahkan petualangan baru, pelajaran baru, pengetahuan baru, pemahaman baru, sikap baru, serta, pandangan yang baru terhadap sesuatu.
Karena itu, carilah rasa sakit, carilah sesuatu hal yang membuat anda rasanya seperti memikul beban besar luar biasa. Terbiasa dengan beban itu, carilah beban yang lebih berat lagi.
Dan tiba tiba, dalam beberapa kali latihan anda sudah menjelma menjadi manusia dengan kualitas sangat baik yang dapat hidup dalam kondisi terburuk apapun. Karena anda sudah terbiasa.
7 Responses to Sakit itu biasa
Leave a Reply Cancel reply
Follow Me!






nang
gravatar gw muncul gak? oia, blog nginggris gw ganti jadi ini. di sini gw simpen hasil terjemahan dian untuk artikel lu ke twentea brow
masi sama, kata Goo Goo Dolls – IRISH : “yeah you bleed just to know you’re alive…” that’s why we need to be bleeding
gak muncul gravatar nya hahahaha
bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian
bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian
thanks 4 ur inspiration
bagus2, artikel yang memberi masukan berharga rasa sakit memang harus dilatih agar kedepannya tidak terlalu sakit.thanks
mantap bro, sakit seperti diatas ibaratnya “Sengsar Membawa Nikmat”..
Terima kasih ya